SARS-CoV-2 atau COVID-19 merupakan penyakit yang menjangkiti sistem respiratori. Beberapa bulan sebelumnya, WHO menyatakan COVID-19 bertransmisi melalui droplet. Namun, pernyataan ini terus menunjukkan kontroversi di kalangan peneliti, hingga WHO kemudian menyatakan COVID-19 bertransmisi melalui airborne system. Penyebaran droplet terjadi ketika seseorang yang terinfeksi mengalami bersin atau batuk lalu menyebarkan droplet air liur dan mukus. Sedangkan penyebaran airborne terjadi saat partikel kecil yang tersuspensi dalam udara dihasilkan bisa karena seseorang yang terinfeksi berbicara, lalu dapat bertahan di udara lebih lama dan menyebar lebih jauh.

COVID-19 dapat menular melalui percikan air liur atau mukus dari seseorang yang terinfeksi saat ia batuk, bersin, bahkan bernafas tepatnya saat proses ekshalasi. Percikan air liur atau mukus yang tersuspensi dalam udara tersebut membentuk droplet berukuran 5 mikron atau lebih yang kemudian jatuh pada permukaan tertentu. Jika droplet mengalami evaporasi dan menyebar lebih jauh maka akan berubah menjadi partikel udara yang berukuran lebih kecil yaitu kurang dari 5 mikron dan bertahan lebih lama di udara. Selain itu, droplet dapat juga menempel pada permukaan yang pada akhirnya menjadi partikel yang terbawa udara. Partikel ini dapat menyebabkan airborne disease yaitu penyakit bawaan udara dimana patogen menyebar sebagai partikel kecil yang berada di udara dalam jarak dan waktu tertentu.

Pada awalnya, WHO menyatakan virus ini bertransmisi melalui sistem droplet. Namun, pernyataan ini kemudian digugat oleh banyak peneliti oleh adanya fakta-fakta pendukung. Fakta pertama adalah adanya beberapa penelitian melaporkan bahwa virus SARS-CoV-1 menyebar lewat udara, begitu pula dengan virus Norwalk-like yang menyebar di antara murid sekolah dan virus influenza A/H5N1 pada musang. Bukti-bukti ini juga memperkuat kemungkinan virus SARS-CoV-2 dapat menyebar melalui udara. Di samping itu, berdasarkan banyaknya kesamaan antara dua virus SARS ini, SARS-CoV-2 sangat berkemungkinan besar untuk menyebar melalui udara.

Aksi pengajuan transmisi airborne pada COVID-19 juga dilakukan 239 ilmuwan di 32 negara yang menguraikan bukti yang menunjukkan partikel yang lebih kecil dapat tersebar dan bertahan lama di udara kemudian masuk ke sepanjang saluran pernapasan manusia. Studi yang dilakukan adalah menirukan percobaan semu dengan digunakan dua bus, satu bus dengan seorang individu dengan penyakit dan satu tanpa individu berpenyakit, membawa penumpang yang sama pada waktu yang sama. Wabah yang sama dibandingkan antara komponen indoor (naik bus) dan outdoor (acara ibadah) dengan waktu paparan yang sama. Hasilnya menunjukkan tingkat serangan yang jauh lebih tinggi di lingkungan tertutup dengan sirkulasi udara kembali. Peran potensial dari sirkulasi udara mekanis untukpenyebaran COVID-19 juga didukung oleh penelitian baru-baru ini yang mengamati outlet-outlet pembuangan udara yang terkontaminasi virus.

Selain itu, kecenderungan transmisi airborne pada pasien COVID-19 ditemukan di di Republik Rakyat Tiongkok, negara pertama munculnya laporan kasus COVID-19. Meskipun belum ada data yang kuat, penyebaran awal COVID-19 menunjukkan virus menyebar melalui proses non-kontak khususnya di daerah selain Wuhan yaitu Hunan dan Tianjin. Kasus lain juga ditemukan pada transmisi COVID-19 di kapal pesiar, dimana ribuan penumpang kapal pesiar terinfeksi walaupun diberlakukan isolasi dalam kabin, pembatasan kontak langsung, dan kebersihan ketat. Muncul hipotesis bahwa ventilasi kabin menyebabkan adanya penyebaran airborne. Hingga akhirnya WHO kemudian menyatakan bahwa virus corona memungkinkan untuk menyebar terutama dari orang ke orang melalui tetesan kecil dari hidung atau mulut, yang dikeluarkan ketika pasien batuk, bersin atau berbicara dalam ruangan yang tidak berventilasi. Orang melepaskan seluruh kontinum partikel ketika mereka batuk,bersin atau berbicara, termasuk partikel besar yang mengendap dengan cepat dan partikel yang lebih kecil yang bertahan selama berjam-jam.

Kendati demikian, kesulitan yang dialami peneliti dalam memperkuat bukti bahwa COVID-19 dapat mengalami penyebaran airborne adalah belum adanya mekanisme untuk deteksi langsung virus dalam udara. Pasalnya, sesaat setelah terekshalasi, konsentrasi virus atau materi genetiknya dapat turun diakibatkan oleh aliran udara. Maka untuk melakukan sampling yang baik harus diketahui bagaimana aliran udara yang dihasilkan oleh pasien yang terinfeksi. Penelitian akan hal ini masih terus-menerus dilakukan.

Adanya paparan terbaru ini mengakibatkan diperlukannya usaha ekstra untuk meminimalisir terjadinya infeksi COVID-19 lewat transmisi airborne ini. Adapun usaha pencegahan adalah sebagai berikut:

  1. Melakukan physical distancing kira-kira 6-10 langkah.

  2. Sering membuka jendela di rumah dan mobil, guna meningkatkan tingkat ventilasi udara. Ventilasi akan mengontrol seberapa cepat udara ruangan dihilangkan dan diganti selama periode waktu tertentu. Ventilasi memainkan peran penting dalam menghilangkan udara yang mengandung virus yang dihembuskan.

  3. Untuk beberapa aktivitas, gunakan ruangan outdoor atau semi-outdoor

  4. Batasi waktu dan orang dalam ruangan seminimal mungkin

  5. Tetap memakai masker baik dalam maupun luar ruangan, terkhususnya bila terdapat banyak orang.

  6. Tetap melakukan protokol kesehatan lainnya seperti physical distancing, rutin mencuci tangan,dan memenuhi etika saat batuk dan bersin

  7. Untuk rumah sakit, pastikan pembuangan yang cukup di tempat-tempat seperti kamar mandi dan kamar rumah sakit dengan pasien yang terinfeksi.

  8. Tenaga kesehatan diharapkan untuk selalu mengunakan masker medis bila berada di sekitar area kerja klinis.