Obat Kombinasi COVID-19 dari Indonesia?

Beberapa waktu ini, isu mengenai obat COVID-19 dari Indonesia merebak di media massa. Terdapat lima kombinasi yang sempat disarankan, yakni lopinavir/ritonavir dengan azithromycin, lopinavir/ritonavir dengan doxycycline, lopinavir/ritonavir dengan clarithromycin, hydroxychloroquine dengan azithromycin, dan hydroxychloroquine dengan doxycycline.Yuk kenalan dengan obat-obat ini!

Mekanisme kerja dan efek samping Lopinavir/Ritonavir

Lopinavir-Ritonavir merupakan terapi lini kedua untuk pengobatan HIV dan kombinasi obat antivirus golongan protease inhibitor. Pada virus, enzim protease berguna untuk mengkatalisis proses pemecahan ikatan peptida spesifik pada prekursor protein virus, sehingga dihasilkan protein fungsional yang mendukung replikasi virus. Lopinavir-Ritonavir akan berikatan dengan enzim protease, sehingga dapat mencegah terbentuknya protein fungsional untuk virus.

Efek samping: diare, mual, astenia, nyeri abdomen, muntah, sakit kepala, dispepsia, kembung, insomnia, parestesia, anoreksia, nyeri, depresi, lipodistrofi, ruam, mialgia, dan sebagainya.

Mekanisme kerja dan efek samping Azithromycin

Azithromycin merupakan antibiotik spektrum luas golongan makrolida untuk mengobati infeksi bakteri. Azithromycin berikatan dengan subunit 50S pada ribosom dan menghambat aktivitas sintesis protein pada bakteri dan menghambat pertumbuhan dan pembentukan biofilm oleh bakteri.

Efek samping: mual, muntah, nyeri perut, diare; urtikaria, ruam dan reaksi alergi lainnya; gangguan pendengaran yang reversibel (dosis besar), aritmia dan nyeri dada, pankreatitis, hepatitis, hingga gagal ginjal akut.

Mekanisme kerja dan efek samping Hydroxychloroquine dan Azithromycin

Hidroksiklorokuin awalnya merupakan obat antimalaria, namun secara meluas juga digunakan dalam pengobatan penyakit autoimun. HCQ sebagai antivirus memiliki mekanisme sebagai agen alkalinisasi fagolisosom yang juga menghambat proses fusi dan uncoating dari SARS-CoV 2.

Efek samping: Gangguan penglihatan, gangguan jantung, gangguan sistem imun, dan sebagainya.

Mekanisme kerja dan efek samping Doxycycline

Doksisiklin merupakan antibiotik spektrum luas golongan tetrasiklin yang bekerja dengan menghambat sintesis protein pada bakteri dengan mengkelat senyawa zink pada matriks metalloproteinase (MMPs) dimana coronavirus juga diketahui bergantung pada MMPs untuk kelangsungan hidup, infiltrasi sel, adhesi antar sel, dan bereplikasi.

Efek samping: gangguan sistem pencernaan. gangguan ginjal, gangguan kulit, gangguan darah, reaksi alergi, perubahan warna gigi, gangguan pada janin, gangguan kelenjar tiroid, gangguan metabolisme tulang, gangguan tekanan intrakranial.

Mengapa Kombinasi ini Menimbulkan Pro dan Kontra?

  • Adanya perbedaan pernyataan WHO dengan klaim yang diberikan oleh pihak UNAIR. Pada 6 Juli 2020, WHO menerima rekomendasi dari Solidarity Trial’s International Steering Committee bahwa percobaan terhadap Hidroksiklorokuin dan Lopinavir/Ritonavir harus dihentikan. Hasil uji coba sementara ini menunjukkan bahwa Hidroksiklorokuin dan Lopinavir/Ritonavir menghasilkan sedikit atau tidak ada penurunan pada kematian pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit jika dibandingkan dengan perawatan standar. Selain itu, kombinasi Hidroksiklorokuin dengan Azitromisin saat ini tidak direkomendasikan untuk digunakan dalam terapi COVID-19 karena dapat menyebabkan QT prolongation atau aritmia (NIH, 2020) dan hipoglikemia (ADA,2020).

  • BPOM menyebutkan pasien konfirmasi positif tanpa gejala (OTG) turut dilibatkan dalam penelitian. Padahal dalam ketentuan uji klinis, pasien OTG tak diberikan obat.

  • Perlu dilakukan evaluasi terhadap uji klinis yang telah dilakukan untuk mendapatkan terapi COVID-19 yang tepat dan minim efek samping, serta memberi jalan keluar untuk bersama-sama menghadapi pandemi COVID-19.


Referensi

American Diabetes Association (ADA), 2020. Hypoglycemia (Low Blood Sugar). Available at <https://www.diabetes.org/diabetes/medication-management/blood-glucose-testing-and-control/hypoglycemia>. [Diakses pada 11 Agustus 2020].

DrugBank. (n.d). Azithromycin. Available at https://www.drugbank.ca/drugs/DB00207 (diakses pada 18:47 24 Agustus 2002)

DrugBank. (n.d). Lopinavir. Available at: httpsw.drugbank.ca/drugs/DB01601 (Diakses pada 15:13 24 Agustus 2020)

https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/global-research-on-novel-coronavirus-2019-ncov/solidarity-clinical-trial-for-covid-19-treatments

https://www.clinicaltrialsarena.com/analysis/covid-19-clinical-trials-results-2/

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200819152708-20-537375/bpom-temukan-masalah-uji-klinis-obat-covid-19-dari-unair

Malek, A. E., Granwehr, B. P., & Kontoyiannis, D. P. (2020). Doxycycline as a potential partner of COVID-19 therapies. IDCases, 21, e00864.

NIH., 2020. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Treatment Guidelines. Available at <https://www.covid19treatmentguidelines.nih.gov/>. [Diakses pada 11 Agustus 2020].

Parnham MJ, Erakovic Haber V, Giamarellos-Bourboulis EJ, Perletti G, Verleden GM, Vos R. Azithromycin: mechanisms of action and their relevance for clinical applications. Pharmacol Ther. 2014;143(2):225-245.

Pusat Informasi Obat Nasional BPOM. (n.d). Azitromisin. Available at http://pionas.pom.go.id/monografi/azitromisin (diakses pada 18:57 24 Agustus 2020)

Pusat Informasi Obat Nasional BPOM. (n.d). Eritromisin. Available at http://pionas.pom.go.id/monografi/eritromisin (diakses pada 18:58 24 Agustus 2020)

Pusat Informasi Obat Nasional BPOM. (n.d). Lopinavir+Ritonavir. Available at http://pionas.pom.go.id/monografi/lopinavir-ritonavir (diakses pada 15:17 24 Agustus 2020)

Sodhi M, Etminan M. Therapeutic Potential for Tetracyclines in the Treatment of COVID-19. Pharmacotherapy. 2020;40(5):487-488.

Steinkühler C. (2008) Viral Proteases. In: Offermanns S., Rosenthal W. (eds) Encyclopedia of Molecular Pharmacology. Springer, Berlin, Heidelberg.